Mutiara Tak Berharga Akibat Ulah Iblis Nyata — Habib Anshori

 


Day 3 Praktek Peradilan

Pengadilan Agama Padang Kelas 1A

 

Dahulu ada sebuah kisah tak asing bagi penikmat cinta. Kisah itu tentang kesabaran dan ketulusan cinta dari seorang suami bernama Habibi dan ainun istrinya. Kita semua tau, awal dari kisah mereka tidaklah begitu jaya. Berawal dari ekonomi yang sulit serta keterbatasan pilihan antara meneruskan karir dan meninggalkan. Habibi yang dikenal sebagai presiden ketiga Indonesia itu tidak selalu disukai oleh banyak orang. Manusia bertubuh kecil tak berotot itu hanyalah sebuah kuaci yang mudah untuk di bunuh oleh banyak orang. Lah kenapa? Badan boleh kecil, namun beribu-beribu ilmu, cara berbicara, idealisme serta jejak prestasi yang abadi sebagai pencetus struktur pesawat terbang sekaligus orang terpandang dan sangat dihormati oleh kaum oligarki jerman, karna memajukan perusahaan penerbangan terkemuka di Jerman.

Disisi lain Habibi dan ainun dikenal dengan sepasang kekasih berbungkus Mutiara. Saling mencintai saling mengerti dan saling menghormati. Akan tetapi apakah semulus itu kisah cintanya? Oh tidak. Ainun yang memiliki karir bagus ketika itu sebagai dokter harus berakhir dengan karir yang amat ironis. Yapss. Ibu rumah tangga. Emang menjadi rumah tangga itu ironis ya? Tidak. Itu hanyalah sebuah stigma para kaum-kaum yang tak pandai berumah tangga dan bercinta dengan kekasihnya. Ainun yang telah menyelesaikan Pendidikan kedokterannya di salah satu kampus ternama di Indonesia, universitas Indonesia harus menelan pahit atas pupusnya do’a-do’a yang telah di panjatkan kepada tuhan setiap malamnya.

Pasti karna menikah? Sebagian orang mungkin berpandangan seperti itu. Namun pandangan lain hadir dari seorang istri yang sangat menghormati tanpa instruksi, sangat mencintai, tanpa alasan gengsi dan sangat mengerti tanpa perintah kondisi. Semuanya tulus dari hati tanpa unsur dosa dan bisikan iblis duniawi.

Sosok ibu yang mencintai suami dan anak-anaknya itu rela menghabiskan sisa-sisa kehidupannya sebagai ibu rumah tangga. Perjuangan itu bertubi-tubi, mulai dari LDR dengan suami karna kesibukan kerja, keterbatasan nafkah batin dari suami, sakit yang menimpa anak keduanya bernama tahreq sampai pada akhirnya bertarung dengan penyakit kanker ovarium yang berujung mati.

Kita semua tau, kisah cinta mereka sangat menjadi pelajaran bagi manusia-manusia lanjut setelah era mereka. Tidak sebagai kewajiban harus seperti mereka, melainkan cara berkeluarga dan menghadapi konflik rumah tangga dengan sangat bijaksana. Habibi tidak pernah menuntu ainun diluar batas kendalinya. Semua keputusan selalu berlandaskan musyawarah dan komitmen nyata.

Namun bagaimana fenomena-fenomena kisah percintaan manusia abad ini?

Aku sebagai mahasiswa hukum keluarga yang telah tiga hari ini melaksanakan praktek peradilan serta menyaksikan beberapa kasus perceraian diruang sidang yang dulunya aku anggap semenegangkan itu menjadi sosok yang mulia. Namun yang paling membuatku menegangkan bukanlah hadir dari sosok menjadi yang mulia, melainkan para-para pelaku iblis yang tak bertanggungjawab pada Amanah kehidupannya. Hari ini sangat banyak sekali kasus terkait “perceraian” yang hadir di ruang sidang yang mulia. Banyak dari penggugat itu merupakan seorang istri “Mutiara” yang tak berharga akibat ulah suami “iblis” nyata.

 

Ketidak bertanggungjawaban mereka membuat para Mutiara dunia menjadi tak berharga.

Kenapa begitu yang mulia?

Yang mulia bertanya balik kepadaku.

“tidakkah ada rasa empati dan tanggungjawabmu jika suatu saat ditakdirkan sebagai seorang suami?.”

Aku yang sudah menyaksikan banyak kasus tentang kekerasan terhadap istri bahkan salah satu dari mereka pernah dicekik, dihantam, dientukkan ke dinding, bahkan diinjak-injak menggunakan kaki iblis sampai berdarah-darah.

Aku hanya terdiam.

Setelah sidang seorang janda itu, aku melihat tanpa bekedip sampai ia keluar pintu meninggalkan ruang yang mulia.

 Emosiku saat itu membara, bolehkah aku bunuh iblis nyata itu?

Sakit hatiku melihat pengakuan dua orang saksi dari seorang janda itu.

Bukankah kisah Habibi dan ainun itu sudah begitu jelas tampak di baca dan sangat tampak jelas dilihat dari layar lebar bioskop. Mana tau mereka belum baca dan tontonkan?

Betul sekali. Tapi pertanyaanku, sudahkah para penghulu menjalankan perannya sebagai penentu terjadinya pernikahan? Tidakkah mereka secara rutin memberikan edukasi tentang pernikahan kepada masyarakat yang membutuhkan? Tidakkah orang tua menganalisa pemahaman keagamaan calon minantunya?

 

Heyyy! Sadar wahai iblis nyata. Kalian sudah menhancurkan Mutiara dunia. Begitu besar perjuangan nabi kami, ibu kita kartini dan pahlawan pahlawan lainnya yang memperjuangkan harkat martabat Wanita.

Tidak selamanya uang akan menjadi sumber kebahagian dikehidupan kalian. Hanya karna uang, jabatan membuat angka perceraian selalu tinggi di ranah peradilan agama.

Benar, terkadang cinta yang tulus dipertemukan dengan iblis nyata. Cinta yang tulus terkadang dipertemukan dengan neraca antara jabatan dan Wanita lainnya.

Sungguh ironis dan fakta. Hukum telah memberikan jawaban, namun tidak dengan ketenangan batin Mutiara.

Doa baik ini selaluku panjatkan kepada tuhan yang maha kuasa. Semoga kelak diriku menjadi insan yang tulus dan setia dalam mencintai Mutiara. Melalui pengalaman ini menjadi titik nadir bagiku kali ini.

Wahai mutiaraku nantinya, kelak kamu membaca tulisan ini, engkau sadar, aku tidak begitu kuat melihat dirimu menderita, cukup kehidupanku saja yang sakit dan menderita. Rasa kuat dan semangatku ibaratkan baja, namun sekuat-kuatnya baja juga akan meleleh terkena api yang membara. Begitulah cinta, ia bisa menguatkan dan melemahkanku. Di kehidupan  yang “hanya sekali” mari “kita hidup yang berarti”.

 


Komentar