S UARA mesin berat memecah pagi di tepi Sungai Sukaku. Udara lembap bercampur bau solar, tanah basah, dan sisa akar-akar mangrove yang tercerabut. Rifqi berdiri di antara kabut debu, menatap gundukan tanah yang dulunya hijau. “Ril, lihat ini.” Rila datang terburu-buru, masih mengenakan jaket almamater. Ia berhenti di samping Rifqi dan memandangi pemandangan di depan mereka, tanah berlubang, akar pohon menjulang. “Ya Allah, Rif, mereka beneran gali semua?” suaranya nyaris serak. Rifqi mengangguk pelan. “Tadi pagi aku lewat, belum separah ini. Sekarang udah kayak ladang tambang.” Rila menatap papan proyek di seberang jalan. Tulisan besar di atasnya mencolok, “ Pembangunan Jembatan Sungai Sukaku – Demi Akses Masyarakat yang Lebih Baik” . “Demi akses masyarakat,” gumam Rila pelan, nada sinisnya tak bisa disembunyikan. “Terus akses makhluk lain gimana? Ikan, burung, mangrove?” Rifqi tidak menjawab. Ia tahu Rila sedang menahan marah. Mereka berdua sudah enam bulan meneliti ekosis...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya