Saya masih ingat betul momen ketika kabar lolos beasiswa itu saya sampaikan ke rumah. Tidak ada pelukan. Tidak ada “selamat”. Yang ada hanya diam sebentar, lalu, “kuliah lama-lama, kapan kerjanya?” Saya memilih tidak menjawab. Bukan karena tidak punya jawaban, tapi karena terlalu lelah memulai penjelasan yang saya tahu tidak akan didengar sampai selesai. Begitulah kiranya nasib mereka yang memilih jalan panjang di tengah keluarga yang hanya mengenal satu ukuran keberhasilan: seberapa cepat seseorang menghasilkan uang. Di keluarga saya, perbandingan adalah bahasa cinta yang paling salah kaprah. Setiap pulang, kalimat yang menyambut bukan “capek?” atau “gimana kuliahnya?”. Melainkan, “itu loh temenmu dah kerja, dah dapet uang.” Kadang disusul versi lain, “si itu temenmu mau kerja di luar negeri.” Teman-teman yang memilih langsung bekerja setelah lulus SMA selalu jadi contoh ideal. Mereka dipuji karena sudah mandiri, sudah bantu orang tua, sudah pegang uang sendiri. Sementara saya...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya