“Eh, kamu tahu gak? Ini sekolah swasta, ya kamu harus membayar SPP! Kalau gak mampu, jangan sekolah disini!” Dep! Aku terpaku. Mataku memanas. Dadaku bergejolak. Buk Ratih, bendahara sekolah, berlalu meninggalkanku, setelah mencabik-cabik diriku dengan perkataannya.
Kejadian tagi pagi kembali berputar. “Kenapa? Kenapa yaa Allah? Engkau berikan aku jalan yang berbeda dari anak seumuranku yang lain! Engkau tidak adil! TIDAK ADIL!” Brak! Tubuhku tumbang. Dikepalaku berputar hal-hal yang terjadi sebelum hari ini tiba dengan segala kejutannya.
🕑🕑🕑
Hawa hangat menari di atas secangkir teh, tumpukan buku terbuka di sekitarnya. Lampu redup teras rumah menjadi penerang. Layar Handphone terus kugulir, melihat pesan di grup kelas yang sibuk membahas perkuliahan. Besok adalah hari terakhir bagi kami kelas dua belas melaksanakan Ujian Akhir Sekolah. Kuletakkan kembali Handphone dan fokus dengan semua buku-buku di depanku ditemani dengan sejuknya malam. Ayah dan Ibu telah menaruh harapan yang begitu besar kepadaku, meskipun mereka tidak mengatakan apapun, tapi aku tahu, semua tersampaikan didalam nama yang mereka sematkan. Ahsanunnas. Sanu, begitulah mereka memanggilku. Siswa kelas dua belas di SMA Swasta Asy-Syukron. SPP-ku tiga bulan terakhir masih tertunggak, karna proyek pembangunan rumah yang dikerjakan Ayah sedang mangkrak. Ayahku seorang pekerja serabutan. Jika ia libur bekerja hari itu, maka libur pula pemasukan keluarga kami. Ibu membantu pemasukan keluarga kami dengan mencari Genjer di rawa-rawa dan menjualnya kepasar dengan harga dua ribu perikat. Dari Genjer itulah kami bisa tetap makan setiap hari.
“Sanu, di mana adikmu?” tanya Ayah yang tanpa kusadari sudah berada di ambang pintu.
“Sepertinya sudah tidur di kamar, Yah,” sahutku sekilas melihat Ayah.
Senyum lembut Ayah hadir bersama usapan hangat di punggungku. Aku menjawab dengan senyum tipis dan anggukan penuh rasa hormat. “Semangatlah anakku,” begitulah ungkapan di balik senyuman yang tak terucap itu kuyakini.
Aku tahu, Ayah pasti sedang berusaha dengan sungguh-sungguh. Yang perlu kulakukan sekarang adalah sungguh-sungguh pula belajar dengan baik dan menyelesaikan ujian dengan hasil yang memuaskan. Setiap orang tua pasti ingin anaknya berhasil, begitupun kedua orang tuaku.
🕑🕑🕑
“San, ayo bangun. Nanti masuk angin kalau tidur di teras. Pindah ke kamarmu.” suara Ibu terdengar lembut dan hangat, sehangat selimut yang tak sempat kupakai.
“Iya, Bu,” jawabku belum sepenuhnya sadar sambil mengucek mata dan membereskan semua buku-buku.
“Kemarikan cangkir itu, bawa buku-bukumu saja,” ujar Ibu mengambil gelas yang hendak kuangkat.
“Terimakasih, Bu.”
Kubuka pintu kamar yang sudah rapuh dimakan Rayap. Galih, wajahnya tampak begitu tenang dengan selimut di tubuhnya. Sejenak ku tatap layar depan Handphone. “Bisa gak, ya?” Kutarik nafas dengan berat dan kurebahkan tubuhku di sebelah Galih.
🕑🕑🕑
Kriingg… kriingg… kriingg…
Bel sekolah berbunyi. Sorakan rasa legah dan puas memenuhi koridor sekolah dari para siswa kelas dua belas. Ujian Akhir Sekolah telah usai. Koridor dan kantin dipenuhi para siswa dengan wajah berbinar. Di pojok koridor, di sebuah bangku panjang, Aku termenung menatap kosong segala hal di hadapanku.
“Sanu!” sebuah teriakan mengagetkanku.
“Apasih, Dre. Buat kaget saja!” cetusku.
“Aku sudah memanggilmu dari tadi,” sahut Andre menarik nafasnya malas. “Kau saja yang melamun,” sambungnya.
“Hehe, maafkan kalau begitu.” Aku memperbaiki posisi duduk agar lebih nyaman.
“Apa yang sedang kau pikirkan? Ceritakan saja padaku!” senggol Andre.
“Tidak ada, Dre. Legah saja sudah siap ujian.”
“Sanu, kita sudah lama, loh, berteman,” ucapnya memaksaku bicara.
“Iya, Andre. Tidak ada apa-apa.”
“Baiklah,” akhirnya ia menyerah dengan segala pertanyaannya. “Bagaimana? Sudah tahu mau tes kuliah melalui jalur apa?”
“Belum, Dre. Kau sendiri?”
“Insyaallah SNBP, aku akan mengambil teknik sipil di UNP. Kau sendiri akan ke UIN Imam Bonjol, ya?” tanya nya sambil menatapku.
“Darimana kau tahu?” kagetku.
“Itu!” Andre menunjuk layar Handphoneku. “siapa saja yang ngeliat juga pasti akan tahu,” ujarnya. “Jurusan apa?”
“Bahasa dan Sastra Arab.”
Matanya membelalak. “Apa? Kau mau jadi apa dengan mengambil jurusan itu. Hahaha!” ledeknya.
“Eh, rezeki itu sudah ada yang mengatur, memangnya kau sudah yakin bisa mendapat pekerjaan yang sesuai dengan jurusanmu itu?” sindirku menyenggol lengannya.
“Aku hanya bercanda, San. Serius banget.” Andre merungutkan wajah.
Aku merangkulnya, “Hahaha. Ayo kita pulang!”
🕑🕑🕑
Brak! Setumpuk kertas kuletakkan di lantai kamar. Tanganku terus mencari. Mataku menyusuri seisi ruangan, apa lagi yang bisa ku bawa untuk melamar pekerjaan, ya? Ibu belum pulang dari pasar. Galih diajak ayah berkeliling, sembari ayah mencari pekerjaan serabutan yang lain. Kucari berkas-berkas penting, data diri, sertifikat prestasi-prestasi yang pernah kuraih, kusatukan di dalam sebuah map berwarna coklat.
“Aku harus mencari pekerjaan!” ujarku membulatkan tekad.
Layar Handphone kugulir. Kucari info lowongan pekerjaan dari website, media sosial, dan semua platform yang ada. Setiap lowongan yang kutemui selalu membutuhkan minimal ijazah SMA. Jari-jemariku tidak berhenti bergerak, dari satu sisi ke sisi yang lain, mengetik dari satu huruf ke huruf yang lain, mencari dari satu halaman ke halaman yang lain.
“Ternyata tidak semudah itu, ya.” lirihku hampir frustasi. “Aku akan cari pekerjaan di kota ini!” kembali kuyakinkan diri dan segera bersiap.
Kukemasi semua berkas. Sehelai kemeja putih lembut kukenakan saling melengkapi dengan celana hitam panjang berbahan dasar kain yang lembut dan nyaman. Sosok di balik cermin itu sedang saling bertatapan denganku, ia seakan pemuda yang tak jelas arah hidupnya. Impian yang terlalu tinggi, membuatnya buta akan dunia yang kejam tanpa lembaran kertas bernilai. Kakiku melangkah meninggalkan kamar.
“Sanu! Ternyata kamu sudah pulang.” suara ibu yang sedang memasuki pintu rumah menyapaku.
“Iya, Bu. Sudah dari setengah jam yang lalu.” sahutku sambil mengenakan kaus kaki.
“Kamu mau kemana lagi? rapih banget? Sini makan dulu, Ibu tadi di kasih Bu Idah Ikan goreng.” Ibu menunjukkan bungkusan di tangannya.
“Sanu mau cari kerjaan, Bu. Ibu makan saja duluan, Sanu nanti saja makannya. Doain Sanu, ya, Bu. Semoga bisa dapat kerjaan,” ujarku mendekati ibu dan ingin mencium punggung tangannya.
Ibu seketika terdiam, seolah ada yang tertahan oleh kelopak matanya. Kedua tangannya perlahan memelukku dengan erat. Punggungku terasa basah, menampung tetesan air yang terus mengalir.
“Ibu dan Ayah minta maaf ya, Nak.” suara ibu terdengar sengau. “Belum bisa melunasi biaya sekolahmu dan belum bisa membiayaimu untuk melanjutkan kuliah seperti teman-temanmu.” suara ibu semakin terdengar tidak jelas. Aliran air yang turun menjadi lebih deras.
“Sudah, Bu. Tidak apa-apa. Sanu sudah besar, Sanu harus bisa memenuhi kebutuhan sendiri dan harus bisa membantu perekonomian keluarga kita, bukan malah menjadi beban untuk Ayah dan Ibu,” ujarku menenangkan ibu. Perlahan ibu melepas pelukannya.
“Sanu pergi dulu ya, Bu,” pamitku sekali lagi.
“Hati-hati, Nak!” wajah sendu ibu disertai bibir yang mengukir senyum tipis melepaskanku pergi mencari pekerjaan di kota ini.
Kukenakan sepatu hitam yang sudah menemani perjalananku mulai masuk SMA sampai meninggal SMA itu kembali. Kupegang erat map coklat di tangan kananku. Kaki kananku mulai melangkah meninggalkan rumah. Cahaya terik yang menggigit kulit, menyertai perjalananku siang ini.
“Bismillah!” ucapku penuh semangat dan keyakinan.
🕑🕑🕑
“Permisi, Pak. Apakah di toko ini sedang menerima pekerja baru?” tanyaku menampilkan senyum ramah dan profesional.
“Maaf ya, kami sedang tidak membutuhkan,” jawab pria berambut putih dengan suara berat.
Toko demi toko kukunjungi. Senyuman terus kutebar, meski hati mulai gelisah. Belum ada satupun toko yang tertarik melihat berkas lamaranku. Matahari sudah mulai menemui cakrawala. Perut yang belum diisi juga turut berteriak.
“Yaa Allah, apakah engkau tidak mengizinkanku untuk menjadi anak yang bisa membahagiakan orang tuaku?” batinku mulai frustasi.
Rintikan hujan perlahan turun. Aku berlari dan duduk meneduh pada emperan sebuah ruko. Kupeluk erat kedua lututku. Hujan turun perlahan dan berangsur semakin deras. Hawa dingin menusuk ke dalam tulang. Bibirku mulai bergetar kedinginan. Hingga akhirnya kakiku tidak lagi dapat menopang tubuhku yang segera hambruk.
POV Ibu
“Sanu, Ibu bangga punya anak sepertimu.” lirihku menatap anak sulungku menjauh meninggalkan rumah yang jauh dari kata mewah.
Segera kukemasi beberapa peralatan untuk mencari genjer. Aku juga akan bekerja keras agar anakku bisa menggapai impiannya. Kukenakan bakul di pundak, dan segera berjalan menuju rawa-rawa tempat genjer berkembang. Teriknya matahari tidak akan menjadi penghalang.
“Ibu!”
Aku menoleh jauh kedepan. Sebuah sepeda semakin cepat ke arahku. Pria yang kucintai, bersama buah hati yang menjadi penenang dan penyemangatku, menaiki sepeda itu. Itulah kendaraan yang mampu kami beli.
Sepeda itu tiba di hadapanku. “Ibu mau kemana? Kenapa bawa bakul lagi?” Galih kecil begitu penasaran.
“Ibu mau cari genjer lagi, Anak,” jawabku mengelus kepalanya.
“Ada apa, Bu?” wajah ayah tampak penasaran.
“Sanu-”
“Yuk naik, Bu. Ayah anterin.” aku mengangguk dan menaiki sepeda tua kami.
Kami bertiga berangkat menuju rawa tempatku mengambil genjer. Biasanya aku selalu mengambilnya di pagi hari sebelum matahari naik. Kali ini berbeda, karna kami harus lebih bekerja keras. Setelah beberapa jam mengumpulkan genjer dan diselingi waktu istirahat, tidak banyak genjer yang kudapatkan. Setidaknya hasil dari penjualan genjer ini bisa kutabung, sedikit demi sedikit. Gerimis mulai turun. Matahari semakin merendah. Karna pasar sudah tutup, kami pergi mencari kedai yang mau membeli genjer.
“Ayah, gerimisnya udah makin lebat, nih. Sanu sudah pulang belum ya?” tanyaku khawatir.
“Emangnya Sanu pergi kemana?” tanya ayah.
“Tadi mau cari kerja, untuk bisa bayar uang sekolahnya,” jawabku sendu.
“Cari kerja kemana?”
“Ayah, Ibu, itu bang Sanu bukan, ya?” Galih menunjuk ke arah sebuah ruko. Mataku membelalak. Sepeda semakin laju dikayuh. Brak! Sepeda kami jatuhkan begitu saja. Galih digendong Ayah. Kudekap Sanu. Tubuhnya mendingin.
“Nak! Nak! Ini Ibu, Nak!” tak dapat terbendung air mata bercucuran begitu deras. “Yah, Sanu, Yah!”
Galih didudukkan di teras ruko yang tidak terkena hujan. Ayah berdiri di tepi jalan. Meminta tumpangan mobil-mobil yang lewat untuk ke rumah sakit. Hujan semakin deras. Mobil-mobil terus berlalu-lalang, dan belum ada juga mobil yang mau berhenti memberikan tumpangan.
“Gimana, Yah?” tanyaku penuh harap. Ayah menoleh, “belum ada, Bu.”
Sebuah mobil fortuner hitam menepi. Seorang wanita berlari dengan payung di tangannya. “Bawa masuk mobil saya saja.”
“Rat-”
🕑🕑🕑
“Ak, Aku, dimana?” tanyaku dengan gemetar.
“Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Sanu.”
“Buk, Buk Ratih, maaf saya belum ada uang untuk membay-” Aku kaget, kenapa ada bu Ratih disini. belum selesai kalimat itu keluar dari mulutku, bu Ratih sudah memotong.
“Sudah, Sanu. Sekarang kamu tenangkan diri kamu terlebih dahulu. Kamu kecapean dan terlalu banyak fikiran.” Tenang bu Ratih sedikit mengelus rambutku.
“Galih.” Kudapati Galih sedang tertidur di sebuah kursi di pojok ruangan.
“Iya, Sanu. Ayah dan Ibumu juga ada. Mereka lagi di luar sebentar.”
“Assalamualaikum.” Ayah masuk dengan sebuah nampan di tangannya. “Sanu, kamu sudah bangun?” Ayah meletakkan senampan makanan di meja.
“Sudah, Ayah,” jawabku masih belum bertenaga.
Ayah mengambil semangkuk makanan dari nampan, “ini Ayah bawain bubur, Ayah suapin ya.”
“Eh, tidak usah, Mas. Biar aku saja.” Bu Ratih merebut semangkuk bubur dari tangan Ayah.
“Merepotkanmu lagi, Rat.” Tak enak ayah.
“Sudah lah, Mas. Istirahat saja disana bersama Galih. Sanu biar aku yang mengurusnya.”
“Makasih banyak ya, Rat.” Bu Ratih mengangguk. “Sanu, makan yang banyak, ya. Kalau ada apa-apa bilang saja ke Ayah.”
“Iya, Ya,” sahutku. Sedetik kemudian, baru saja aku mau bertanya keberadaan ibu, tapi ayah sudah berada di dekat Galih. Kuurungkan niatku.
“Bismillah.” Suapan pertama dari bu Ratih memasuki mulutku. Senyumannya menghilangkan sedikit rasa takutku. Tapi kejadian di sekolah tadi pagi, belum bisa hilang dari benakku. Hatiku masih teriris rasanya.
🕑🕑🕑
Setelah satu malam menginap di rumah sakit, pagi ini dokter sudah membolehkanku untuk kembali pulang dan dokter itu menyampaikan aku cuma butuh istirahat. Dan pagi ini aku sudah bertemu dengan ibu. Ternyata, ketika di perjalanan menuju rumah sakit kemarin ibu pingsan, alhamdulillah kata dokter ibu hanya kecapean. Meski begitu, kami harus tetap membayar tagihan rumah sakit.
“Dikertas ini adalah rincian biayanya, Pak.” Seorang wanita yang bertugas di bagian administrasi menunjukkan sebuah kertas. Sejenak ayah menjadi kaku setelah melihat angka yang tidak sedikit untuk keluarga kami. Empat ratus tujuh puluh tiga ribu rupiah.
Sedetik kemudian ukiran bibir ayah berubah setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut prtugas administrasi lagi, “semuanya sudah dilunasi, pak.”
“kami kan tidak punya BPJS, kenapa bisa sudah lunas, ya?” Bingung ayah.
“tadi ada seseorang yang sudah melunasi semua tagihannya, dan sudah membantu mengurus BPJS untuk keluarga Bapak, jadi kedepannya bisa berobat tanpa bingung dengan biayanya, Pak.” Jelas petugas dengan ramah.
“siapa yang sudah melunasinya?” Ayah mengernyitkan dahi.
🕑🕑🕑
“sudah tidak ada yang tertinggal, Sanu? Galih?” Ibu menggendong Galih dan bakul di pundaknya.
“tidak ada, Bu,” jawabku dan Galih menggeleng.
“bakulnya masukin saja, Mbak!” Bu Ratih mengambil bakul itu dari bahu ibu dan memasukkannya ke dalam mobil.
“eh, jangan Buk! Nanti kotor mobilnya,” panik ibu.
“sudah Mbak, nggak kotor kok.” Bu Ratih tersenyum. “Sanu, bagaimana dengan pendaftaran kuliah? Kamu mau kuliah di mana?”
Aku menunduk. Kejadian di sekolah kembali beputar di kepalaku. Dalam hati aku terus bertanya, apa benar ini Buk Ratih? Sang bendahara sekolah? Ibu pun ikut menunduk, walaupun ibu tidak tahu apa yang terjadi kemarin di sekolah, tapi ibu tahu uang sekolahku tertunggak dan membuatku tidak bisa mengambil ijazah dan melanjutkan perkuliahan. Tetapi ibu dan ayah tidak tahu kalau bu Ratih ini adalah bendahara di sekolahku, karna biasanya ayah menitipkan uang sekolah kepadaku dan aku langsung yang membayarkannya ke bu Ratih. Dan sejak tadi malam, sebuah pertanyaan terus berputar di kepalaku. Ayah dan bu Ratih kenapa keliatan sudah akrab, ya?
“anak saya belum bisa melanjutkan untuk kuliah, Buk. Karna Sanu sekolah di sekolah swasta, dan sudah menunggak SPP nya tiga bulan. Jadi tidak bisa-” kalimat ibu terpotong.
Bu Ratih semakin melebarkan senyumannya. “Mbak, saya Ratih. Bendahara di sekolah Sanu.” Ibu tampak semakin bingung. “Dan sekarang, seluruh uang sekolah Sanu sudah lunas. Sanu bisa mengambil ijazahnya dan bisa melanjutkan untuk kuliah.”
Hah? Kabar apa ini? Apa ini mimpi? Gak mungkin, gak mungkin ini nyata! Bu Ratih jelas-jelas membentakku begitu keras kemarin, ini tidak mungkin nyata. Mataku mulai berbinar. Tapi hati masih tak yakin. Ibu memeluk Galih dengan erat menyembunyikan harunya. Bu Ratih terus tersenyum, melihat ke arahku dan ibu bergantian.
“ada apa ini?” Ayah baru saja tiba, ayah bingung melihatku, ibu, dan bu Ratih.
“Yah, uang sekolah Sanu sudah lunas, Yah.” Suara ibu hampir tidak terdengar, karna ibu menyembunyikan wajahnya dengan memeluk Galih.
“Ratih.” Pandangan ayah langsung beralih ke bu Ratih. “Kamu sudah banyak sekali membantu kami.”
“Tidak, Mas. Ini semua tidak ada apa-apanya jika dibandingan perjuang Mas untuk menolong keluargaku dulu. Jika Mas tidak berani masuk ke rumah kami yang sudah terbakar waktu itu, mungkin nyawa kami saat ini pun sudah hilang. Dan aku juga baru tahu Sanu adalah anak Mas dan Mbak, karna kita belum pernah ketemu di sekolah, Mas.” Bu Ratih memeluk ibu yang ada di sampingnya sejenak. “Sanu, Ibuk minta maaf, ya. Kemarin Ibuk sempat membentak kamu karna belum bayar uang sekolah. Oh iya Mas, Aku adalah bendahara di sekolah nya Sanu. Sebagai bentuk permintaan maafku kepada Sanu, dan sebagai ucapan terimakasihku untuk Mas yang sudah membantu keluargaku, aku akan melunasi seluruh biaya sekolah Sanu, dan aku juga akan membiayai Sanu untuk kuliah di mana pun ia mau.”
Sejenak suasana menjadi hening. Batinku menangis haru tak percaya akan semua ini. Ibu tak lagi dapat menahan tangisnya. Ayah, wajahnya kaku mengeluarkan air dari sebalik kulitnya. Galih yang belum mengerti akan semua ini hanya sibuk melirik kanan dan kiri. Buk Ratih yang kemarin di sekolah benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat dengan buk Ratih yang berada di hadapanku saat ini. Allah memiliki cara yang luar biasa untuk mengabulkan setiap doa hambanya. Kupeluk ayah, ibu, dan Galih dengan erat. Dan kucium punggung tangan buk Ratih dengan hormat dan penuh rasa terimakasih. “terimakasih, bu Ratih.”
TAMAT

Komentar
Posting Komentar