Orang-orang di sekelilingnya membisu. Tidak ada yang berani menimpali. Tidak ada yang sanggup. Bau lumpur, kesedihan, dan ketakutan mengalir mengikuti arus. Tundam, lelaki setengah baya yang sejak pagi membantu evakuasi, memalingkan wajah. Matanya panas, dadanya sesak.
“Itu anaknya Pak Dufon?” suara Ruisi terdengar pelan saat ia tiba di kedai pengungsian darurat. Dengan seragam aktivis lingkungan muda, ia sigap mencatat setiap kejadian.
Tundam mengangguk. “Ninci namanya. Dari tadi begitu. Dari mulutnya keluar itu saja,” jelasnya dengan suara bergetar.
Ruisi mendekat. Ia berlutut, sejajar dengan tubuh kecil yang tampak terlalu ringan untuk menanggung hari seberat ini. Tangannya menyeka rambut Ninci yang lengket oleh tanah. Gadis itu tidak menolak dan tidak meberikan reaksi apapun, selain diam.
“Ninci,” panggilnya lembut. “Lihat kakak.”
Ninci menoleh perlahan. Matanya besar dan bening, dipenuhi akan trauma dan kesedihan yang tidak dapat terucap. Ia menarik napas, lalu berbicara, tanpa diminta, dengan suara datar, suara anak yang belum tahu cara menamai kehilangan.
🍂🍂🍂
Pagi itu
“Abak, suara sungainya kok kayak ada di bawah rumah kita, ya?” tanya Ninci cemas.
“Nggak kok, Ci. Suara arusnya saja yang lagi deras,” jawab Abak tenang. Dan Ninci pun menjadi lebih tenang.
“Bak, kenapa ya teman-temanku banyak yang nggak suka ikan asin? Padahal kan enak!” Jari-jemari Ninci menyusuri rambut Abaknya, mencari helai yang mulai memutih.
“Mereka nggak pernah nyicipin, makanya nggak tahu,” Abak tersenyum menikmati belaian itu.
“Apalagi kalau Amak yang buat pakai sambal hijau. Hm, aku jadi nggak sabar nunggu Amak siap,” ujar Ninci sambil mengulum lidah, membayangkan kelezatannya. “Abak, sebentar ya. Ici mau lihat Amak dulu.”
Ninci berlari ke dapur. Rumah papan itu bergetar mengikuti hetakan Ninci, papan-papan berbunyi menggoyangkan satu dengan yang lain. Aroma khas ikan asin olahan Amak memenuhi seisi rumah.
“Pelan-pelan, Ci,” ujar Amak sekilas menoleh ke belakang, sementara tangannya terus mengayunkan sutil.
“Amak sudah siap masak?” tanya Ninci berbinar.
Amak tersenyum menghadap Ninci.
DDRRRHHH!
Dapur rumah papan itu runtuh bersama tanah, terseret masuk ke sungai yang telah melebarkan alirannya, menggerogoti dasar tanah seperti terowongan tak kasatmata.
“AMAK!” teriak Ninci terpaku.
Tak sampai lima detik, seluruh tanah di tepi sungai beserta rumah mereka habis dilahap keganasan arus yang mengamuk.
Di antara deras air dan puing rumah, Ninci melihat sebuah tangan, wajahnya tak tampak, tapi ia tahu itu Amak. Abak tak terlihat sama sekali. Ninci menggenggam tangan itu erat-erat.
DDRRRRHH! air mengantam. Genggaman terlepas. Tubuh Ninci terangkat ke permukaan, tersangkut pada akar pohon besar yang menembus tanah dan menggeliat di dalam sungai.
Setelah itu, gelap.
🍂🍂🍂
“Tadi sungainya bunyi, Kak,” ujar Ninci pelan. “Dari bawah tanah. Kayak ada yang dorong-dorong dari dalam.”
Ruisi tercekat. Ia sangat mengenal bunyi itu, bunyi tanah yang dikikis arus sungai dari dalam. Sudah tiga kali dalam sebulan ia memperingatkan warga bantaran sungai. Sebagian besar sudah pindah ke lokasi yang lebih aman. Hanya rumah Ninci yang tersisa.
“Amak tadi masak nasi sama ikan asin sambal hijau,” lanjut Ninci. Matanya sedikit bercahaya, seperti masih menyimpan harapan.
“Katanya mau syukuran. Nilai sekolahku seratus. Aku tanya ke dapur, ‘Amak sudah siap masak?’ Amak cuma senyum.”
Kalimat itu menggantung. Sungai di kejauhan menggelegar, seolah menyahut.
“Terus tanahnya jatuh,” suara Ninci makin lirih. “Dapurnya hilang. Rumah hancur. Kami hanyut. Aku pegang tangan Amak, tapi airnya deras dan kuat.”
Ia berhenti. Dadanya naik turun.
“Aku hanyut. Tapi ada akar pohon. Aku tersangkut.”
Ruisi memeluk tubuh kecil itu erat. Ia tahu, sejak hari itu, sungai tak lagi menjadi teman bagi Ninci.
“Tenang ya, Ci. Kamu tinggal sama kakak saja.”
🍂🍂🍂
Dua puluh tahun berlalu.
“Ooh… jadi itu yang bikin kamu suka banget makan ikan asin sambal hijau,” ujar Dira dengan mata berkaca-kaca.
“Di sini sudah nggak ada pemukiman lagi?” tanya Raka sambil mengecek GPS.
Ninci menggeleng. “Di situ dapur kami,” ujarnya, menunjuk ke tengah aliran sungai.
Ninci berdiri di tepian sungai. Desa itu telah hilang, seluruh warganya sudah pindah ke tempat yang lebih aman. Yang tersisa hamparan lahan kosong dan anak-anak pohon yang mereka tanam sebulan lalu, seolah berusaha menghibur gadis kecil yang kini telah dewasa.
Sungai mengalir tenang. Dalam benaknya, ayahnya dan Ninci kecil muncul, tertawa saat mengangkat jaring ikan. Ibunya hadir dengan wajah teduh, mencuci baju di tepi sungai. Ninci bukan lagi gadis kecil berlumpur. Sepatu bot menutup kakinya. Jaket lapangan membalut tubuhnya. Di tangannya, peta dan catatan. Ia kini aktivis lingkungan, bekerja di bidang mitigasi bencana.
“Sekarang bagian rumahmu dulu sudah jadi tengah sungai,” ujar Dira. “Besar banget pengikisannya selama dua puluh tahun ini.”
Ninci tersenyum tipis. “Semoga saja usaha kita bisa memberi kesembuhan.”
Langkah mereka terhenti oleh suara mesin. Bising, kasar, mencabik keheningan. Di depan, sebuah ekskavator meratakan tanah. Anak-anak pohon yang ditanam sebulan lalu kini rata dengan tanah.
Ninci terpaku. Wajahnya memerah saat melihat tumpukan bibit sawit di bak truk Colt Diesel.
“Ini zona merah. Kami sudah kolaborasi dengan pemerintah untuk penghijauan,” ujar Raka gelisah. “Kalian mau ganti semua pohon kami? Mana AMDAL-nya?”
Pengawas proyek menjawab santai, rokok terselip di bibir.
“Tenang saja. Ini kan pohon juga. Aman.”
“Aman?” Ninci mengulang pelan, getir.
Ia menatap sungai yang sudah semakin lebar itu. Dalam benaknya, terbentang bantaran sungai yang penuh kebun sawit. Ninci berlutut, menyentuh tanah, lalu menggenggamnya erat dengan kedua tangan.
“Hentikan sekarang juga!” teriak Ninci dengan wajah merah padam.

Komentar
Posting Komentar