“Dasar gak becus!”
Matahari saja masih meregangkan tubuhnya di atas kasur. Tapi si Budu sudah basah dimandikan kata-kata bosnya. Tugas yang seharusnya diselesaikan kemarin, masih tersisa satu map tipis lagi.
“Maaf, Pak, saya—”
“Iya saya tahu kamu baru saja berduka, tetapi klien kita tidak akan menerima alasan itu ketika meeting nanti!”
Plakkk!
“Kamu selesaikan sekarang juga! Jam sepuluh nanti ada rapat!”
Mata Budu mengikuti keluarnya pria tua berjas dengan tubuh yang lebih pendek darinya itu. Berkas yang di lemparkan pria itu berantakan memenuhi ruangan. Jika diajak baku hantam, sudah pasti si tua itu akan terkapar sebelum pukulan pertamanya tepat tertanam di wajah si pria tua.
Dengan dada yang menggebu-gebu, kepala yang berdenyut-denyut, tangan yang terkepal hendak menghantam apapun, Budu perlahan mulai menyusun dan membuka lembaran berkas jahannam itu. Lembaran sialan itu terpaksa di sentuhnya, karena jika tidak, ibunya yang sedang sakit harus makan apa? Tidak mungkin diberi kertas najis itu, bisa cepat sekali ibunya menyusul ayahnya yang baru tertanam, tanahnya saja masih basah.
Sebelum jam sembilan, berkas itu telah diselesaikan oleh Budu. Budu mengangsurkan berkas itu kepada si pria tua. Pria tua itu membolak-balik kertas dengan kepala yang mengangguk-angguk.
“Oke. Kamu ikut rapat, dan kamu jelaskan terkait seluruh berkas itu kepada klien, saya belum sempat menguasainya.”
Tak ada kata atau gestur penolakan dari Budu. Mungkin saja dia sudah berubah menjadi si penurut.
——
“Bagus sekali penawarannya. Kami menerima seluruh tawarannya!” Pria yang menjadi klien perusahaan si Budu tersenyum semringah. Tangannya hendak menjabat Budu, bak kilat tangan bosnya lebih dulu menerima jabatan yang tak diberikan untuknya itu.
Rapat selesai dengan penuh senyuman. Klien pergi, pergi pula senyuman bosnya kepada Budu. Budu kembali menuju ruangannya dan kembali berjibaku dengan kertas-kertas menjijikkan yang terpaksa dikerjakannya.
“Ngopo, le? Masalah lagi sama si Bos?” Medoknya bahasa itu menandakan Wahyu telah hadir di ruangan Budu.
“Ya dia yang gak jelas. Tahunya marah aja. Padahal ya, aku sudah menakar pekerjaanku, dan aku tahu kemampuan diriku, pekerjaan itu bisa kuselesaikan dalam sekejap, makanya tidak kupaksakan untuk lembur kemarin.”
“Ya begitulah hidup, le.” Wahyu duduk di kursi yang berputar di seberang meja Budu.
“Begitu bagaimana?”
“Simpan kerutan di keningmu itu, jangan berlagak tidak tahu.” Wahyu menatap malas mata Budu.
“Maksudmu?”
“Ya begitulah hidup. Di dalam beragama, kau tidak bisa menjadi dirimu sendiri, kau harus menjadi si alim yang Tuhanmu mau. Di dalam pekerjaan, kau tidak bisa seenaknya saja, kau harus menjadi si rajin dan penurut yang dicintai bos. Di dalam berpasangan, kau tidak bisa bersikap selayaknya dirimu pada umumnya, kau harus menjadi si pangerang dan malaikat yang sempurna dan mengetahui apapun.” Wahyu memutarkan kursinya.
“Ah dasar kau, si Wahyu pemberi wahyu!” ledek Budu.
“Terserah kau menganggap perkataan ku tadi apa.” Wahyu berlalu menghilang di sebalik pembatas ruangan.
Budu bergelut dengan pikirannya sendiri. Yang disampaikan Wahyu memang benar. Tapi hatinya juga tidak bisa menerima begitu saja. Dirinya punya perasaan, punya keinginan, punya batasan. Tidak bisa ia menjadi seperti semua yang orang harapkan kepadanya.
Budu menghela napas berat. Terpaksa ia kembali menggunakan pusaka larangan yang diberikan gurunya. Setelah tidak ada orang yang melihat, Budu mencari sebuah tombol di tubuhnya dan menekannya, kemudian sikapnya berubah, ia juga menjadi si Budu yang dicintai semua orang dilingkungannya.
TAMAT

Komentar
Posting Komentar