Ingin Akan, Tapi… — Ahmad Safarizal

 


Aku menutup wajah dengan dalih,

Tak sanggup ditertawakan takdir,

Sungguh bodoh lagi mempermalukan,

Aku terus memaksa “Ya” pada takdir yang “Tidak”


Ucap dada, “takdir harus diperjuangkan,”

Ucap kepala, “untuk apa bersimpuh pada takdir yang tak pasti,”

Aku tak pernah ingin memperjuangkan akan,

Merayakan mati ‘kan lebih berarti dari memperjuangkan hati.

Komentar