Aku Memang Tak Pernah Ada — Ahmad Safarizal

 


“Dalang seperti apa yang menceritakan jenaka itu kepadamu!” menahan gelak si Pele di tengah tribun teater.

“Aku tak bercanda. Kau lihat tirai yang menutupi panggung itu lekat-lekat!” tak karam niat Seso untuk berkisah kepada Pele.

“Baiklah-baiklah, aku akan mendengarkan kisahmu.” Pele menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, menatap wajah Seso, seakan menyilahkannya untuk mulai bercerita.

Lidah Seso mengambil ancang-ancang. Saat dirasa siap, di antara kedua bibirnya mengeluarkan rangkaian kata demi kata.

“Selepas latihan terakhir pada bulan ketiga semester lalu, Aku membantu Pak Kijai membersihkan area teater. Tak kuasa aku melihatnya bekerja sendirian. Saat aku membersihkan tangga menuju panggung-”

“Tirai itu berbicara kepadaku,” potong Pele berlagak seperti Seso yang sedang berkisah. “Hahaha. Lalu tiba-tiba...” sambungnya lagi.

“Katakan saja kau tidak ingin mendengar. Tak ada yang memaksa. Apalah arti kisah ini untukmu, toh aku bukan sahabat mu.” Rajukan Seso mulai bermunculan karena Pele yang mengganggunya bercerita.

“Ayolah, maafkan aku. Lanjut kisah tirai itu,” pinta Pele, mungkin sungguh-sungguh.

“Ya, memang benar tirai itu berbicara, namun bukan kepadaku.”

Pele menatap dengan lekat, tak ingin memotong.

 

——

 

“Apakah aku tak bisa menjadi bintang utama? Sekali saja aku ingin benar-benar diberikan tepuk tangan.” Suara itu terdengar sangat menyedihkan.

Seso melihat ke segala penjuru ruangan. “Siapakah gerangan?”

Tak ada sahutan. Seso takut terjadi apa-apa pada orang tersebut. Saat ia hendak mengadu pada Pak Kijai, suara itu kembali menggema.

“Berpuluh tahun, berpuluh tahun aku berada disini. Berdiri paling depan diantara seluruh para penampil. Selalu mendapatkan tepuk tangan setelah pertunjukan, yang ternyata itu bukan untukku.”

“Hei! Di mana kau? Kemarilah! Aku akan membantumu!” Seso semakin tak tega mendengar suara parau itu.

“Sebelum para semut yang memungut remah-remah di tribun bercerita kepadaku, kukira semua orang benar-benar ingin melihatku. Saat semua mata terpaku, aku mulai bergerak membelah diri, hingga akhirnya aku kembali bersatu, kukira itu adalah pertunjukan yang memukau mereka semua. Ternyata tidak. Mereka tak menganggapku ada.”

Seso berjalan mendekati panggung. Menyibaknya sedikit untuk melihat siapa di sebalik. Nihil. Tak ada siapapun disana.

“Hei kau!”

Terperanjat Seso. Suara itu memergokinya. Namun dimana orangnya?

“Jangan sentuh aku!”

Spontan saja Seso melepas segala yang berada di telapak tangannya. Tirai kembali bersatu.

“Kau ternyata, apakah kau juga tak pernah menonton penampilanku?”

Suara itu berlagak seakan mengenal Seso. Sedangkan ia saja tak tahu darimana asal suara itu. “Siapa kau? Tunjukkan dirimu!”

“Aku yang berada di depanmu. Ya, kau adalah salah seorang yang tak pernah menganggapku.”

Suara itu membuat  Seso seperti diinterogasi. Seso tak paham, di depannya hanya ada tirai.

“Aku tirai. Yang selalu ikut tampil bersama kalian. Tapi tak sekalipun kalian mengajakku merayakan keberhasilan penampilan.”

 

——

 

Pengeras suara mulai mengeluarkan bunyi-bunyian. Pertanda drama akan segera bermula.

“Baiklah, akan ku sambung sepulang dari sini,” tutup Seso dan mulai fokus menatap ke arah panggung.

Pele seakan lebih tertarik dengan kisah Seso daripada drama yang akan bermula. Ia bergantian melihat Seso dan tirai dengan tatapan yang tak dapat diartikan.

Suara pengiring sudah berbunyi dari tadi, tapi tirai tak kunjung terbuka. Apakah ada masalah dengan tirainya?

 

——

 

“Tamaatt…”

Dalang itu menutup ceritanya. Seluruh penonton bersorak terharu. Pertunjukan itu sukses menjadi penutup acara pagelaran seni daerah di penghujung tahun yang penuh akan  drama.

“Terimakasih, Pak Kijai!”

 

TAMAT


Komentar