Kuliah Pakai Beasiswa: Ketika Usaha Tidak Dianggap karena Belum Menghasilkan Uang - Putri Ardila

 


Saya masih ingat betul momen ketika kabar lolos beasiswa itu saya sampaikan ke rumah. Tidak ada pelukan. Tidak ada “selamat”. Yang ada hanya diam sebentar, lalu, “kuliah lama-lama, kapan kerjanya?” Saya memilih tidak menjawab. Bukan karena tidak punya jawaban, tapi karena terlalu lelah memulai penjelasan yang saya tahu tidak akan didengar sampai selesai.


Begitulah kiranya nasib mereka yang memilih jalan panjang di tengah keluarga yang hanya mengenal satu ukuran keberhasilan: seberapa cepat seseorang menghasilkan uang.

Di keluarga saya, perbandingan adalah bahasa cinta yang paling salah kaprah. Setiap pulang, kalimat yang menyambut bukan “capek?” atau “gimana kuliahnya?”. Melainkan, “itu loh temenmu dah kerja, dah dapet uang.” Kadang disusul versi lain, “si itu temenmu mau kerja di luar negeri.” Teman-teman yang memilih langsung bekerja setelah lulus SMA selalu jadi contoh ideal. Mereka dipuji karena sudah mandiri, sudah bantu orang tua, sudah pegang uang sendiri. Sementara saya, yang kuliah sambil kerja paruh waktu dan tidak menyusahkan siapa pun secara finansial, tetap dianggap belum menghasilkan apa-apa karena tidak ada amplop yang bisa disodorkan saat kumpul keluarga.

Ironinya, beasiswa tidak dianggap sebagai usaha. Ia dianggap kebetulan. Seolah saya Cuma “dapat gratis”, padahal di baliknya ada malam-malam penuh cemas, formulir yang diisi berulang kali, dan ketakutan gagal yang tidak pernah benar-benar pergi.

Dalam psikologi, kondisi ini berkaitan erat dengan apa yang Albert Bandura sebut sebagai efikasi diri dalam bukunya Self-Efficacy: The Exercise of Control (1997). Bandura menjelaskan bahwa keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri tidak tumbuh di ruang hampa. Ia terbentuk dan terkikis melalui respons lingkungan sekitar. Ketika usaha seseorang terus-menerus diremehkan atau diabaikan, yang terkikis bukan hanya semangatnya, tetapi juga gambarannya tentang diri sendiri. Ia mulai bertanya: apakah saya memang tidak cukup baik? Apakah saya salah memilih jalan?

Pertanyaan-pertanyaan itu pernah menghantui saya cukup lama.

Di sisi lain, Donald Super dalam The Psychology of Careers (1957) menjelaskan bahwa membangun karir adalah proses panjang yang melewati beberapa fase, salah satunya fase eksplorasi. Kuliah, magang, kerja paruh waktu, semua itu adalah bagian sah dari perjalanan tersebut. Tidak ada yang langsung lompat ke fase kemapanan tanpa melewati proses di depannya. Namun rumus yang berlaku di banyak keluarga Indonesia, termasuk keluarga saya, tidak mengenal fase eksplorasi. Rumusnya sederhana: lulus SMA, kerja, hasilkan uang. Titik.

Kondisi ini bukan hanya soal tekanan keluarga semata. Ia adalah cerminan dari cara masyarakat kita memandang pendidikan dan kerja. Kuliah masih sering dilihat sebagai jalur lambat menuju uang, bukan sebagai investasi jangka panjang. Akibatnya, mereka yang memilih jalur ini, terlebih yang berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah, kerap terjebak di antara dua tekanan: membuktikan diri kepada keluarga dan mempertahankan keyakinan terhadap pilihan sendiri.

Yang paling melelahkan bukan kuliahnya. Bukan tugas, bukan begadang, bukan ujian. Melainkan harus terus-menerus menjelaskan pilihan hidup sendiri seperti kaset rusak yang diputar ulang. Kenapa kuliah. Kenapa tidak kerja saja. Kenapa jurusannya itu. Kenapa belum bisa kasih uang. Jawaban paling jujurnya sederhana: karena saya sedang berusaha, dengan cara yang berbeda.

Ada rasa sakit yang sulit dijelaskan ketika usaha dianggap kalah hanya karena belum bisa diuangkan. Seolah nilai seseorang baru sah jika bisa disetarakan dengan nominal. Padahal tidak semua investasi langsung berbuah. Tidak semua proses berbunyi keras. Dan tidak semua perjuangan perlu penonton untuk tetap disebut nyata.

Saya tidak marah pada keluarga saya. Saya tahu mereka tumbuh di dunia yang berbeda, di mana bertahan hidup lebih penting dari aktualisasi diri. Tapi saya juga tidak bisa pura-pura kalimat-kalimat itu tidak membekas, karena membekas, dan kadang cukup dalam.

Mungkin yang perlu berubah bukan hanya cara kita memandang pendidikan, tetapi cara kita memberi ruang bagi orang-orang yang sedang dalam proses. Yang sedang berjalan pelan di jalan yang sepi. Yang belum punya amplop untuk disodorkan, tapi setiap harinya berjuang dengan cara yang tidak selalu terlihat.

Karena tidak semua kemenangan berbentuk gaji. Ada yang berbentuk bertahan. Ada yang berbentuk tidak menyerah, meski tidak ada yang bertanya, “kamu baik-baik saja?”


Komentar