Sungai Sukaku - Ahmad Safarizal



SUARA mesin berat memecah pagi di tepi Sungai Sukaku. Udara lembap bercampur bau solar, tanah basah, dan sisa akar-akar mangrove yang tercerabut. Rifqi berdiri di antara kabut debu, menatap gundukan tanah yang dulunya hijau.

“Ril, lihat ini.” 

Rila datang terburu-buru, masih mengenakan jaket almamater. Ia berhenti di samping Rifqi dan memandangi pemandangan di depan mereka, tanah berlubang, akar pohon menjulang.

“Ya Allah, Rif, mereka beneran gali semua?” suaranya nyaris serak.

Rifqi mengangguk pelan. “Tadi pagi aku lewat, belum separah ini. Sekarang udah kayak ladang tambang.”

Rila menatap papan proyek di seberang jalan. Tulisan besar di atasnya mencolok, Pembangunan Jembatan Sungai Sukaku – Demi Akses Masyarakat yang Lebih Baik”.

“Demi akses masyarakat,” gumam Rila pelan, nada sinisnya tak bisa disembunyikan. “Terus akses makhluk lain gimana? Ikan, burung, mangrove?”

Rifqi tidak menjawab. Ia tahu Rila sedang menahan marah. Mereka berdua sudah enam bulan meneliti ekosistem sungai ini untuk tugas akhir. Tempat ini bukan sekadar lokasi penelitian, tapi semacam rumah kecil yang mereka rawat bersama. Dulu, setiap sore mereka datang membawa ember kecil berisi bibit mangrove. Anak-anak kampung ikut membantu, bermain lumpur sambil tertawa. Sekarang, semua berubah jadi pemandangan kelabu dan berisik. Dari arah belakang, suara motor tua terdengar. Pak Udin, nelayan tua yang sering mereka temui di sungai, berhenti di dekat mereka.

“Udah tahu kalian, ya?” katanya pelan.

“Iya, Pak. Kami baru datang,” jawab Rifqi.

Pak Udin menatap ke arah sungai. “Mereka bilang cuma mau ngeratain sedikit buat pondasi. Tapi kayaknya parah banget ya jadinya. Air jadi keruh, ikan-ikan pada pindah.”

“Bapak udah coba ngomong?” tanya Rila cepat.

Pak Udin menghela napas. “Siapa yang mau denger, Nak? Saya orang kampung, bukan pejabat.”

Kata-kata itu membuat suasana makin berat. Rila menggigit bibir, sementara Rifqi menunduk.

Setelah Pak Udin pergi, Rila menatap Rifqi dengan tatapan tajam. “Kita nggak bisa diem, Rif. Ini bukan cuma penelitian kita yang rusak, paham?”

Rifqi menarik napas panjang. “Aku tahu. Tapi kalau kita mau ngomong, harus tahu caranya. Jangan asal marah.”

“Marah itu manusiawi.”

“Iya. Tapi marah doang nggak ngubah apa pun.”

🍃🍃🍃

Sore itu mereka pergi menemui kepala proyek yang berada di dekat lokasi. Kayu yang dibuat menjadi meja itu tampak berantakan, penuh tumpukan map dan surat-surat. Seorang petugas dengan helm proyeknya duduk santai, sambil memainkan ponsel.

“Jadi, kalian mau komplain soal proyek jembatan?” tanyanya tanpa menatap.

“Iya, Pak,” jawab Rifqi sopan. “Kami mahasiswa yang meneliti di lokasi itu. Ada habitat yang rusak, Pak. Kami cuma mau tahu apa ada kajian lingkungannya.”

Kepala proyek itu tertawa kecil. “Kalian ini mahasiswa, ya. Semua mau dikajiin. Ini proyek udah dapat izin, Nak.”

Rila spontan menyahut, “Tapi ada ekosistem yang hilang, Pak. Kalau dibiarkan, sungai bisa longsor!”

Kepala proyek menatapnya sekilas, lalu berkata datar, “Itu urusan dinas. Bukan kami.”

Rifqi mencoba menahan nada suaranya agar tetap sopan. “Kalau gitu, boleh kami tahu dokumen pembangunan jembatan ini, Pak? Biar kami bisa pelajari.”

“Wah, itu bukan buat umum. Lagian, kalian mau apa sih sebenarnya? Proyek ini buat kepentingan masyarakat juga.”

Rila menarik napas panjang. “Iya, Pak. Tapi kalau caranya salah, masyarakat juga yang rugi.”

Kepala proyek itu tersenyum tipis, lalu menutup map di depannya. “Begini aja. Kalian fokus kuliah aja, jangan ikut urusan begini. Nanti malah repot sendiri.”

Ucapan itu seperti tamparan. Rifqi menunduk, Rila mengepalkan tangan. Tapi sebelum sempat bicara lagi, Rifqi berdiri dan menepuk bahu Rila. 

“Sudah, Ril. Ayo.”

Begitu mereka keluar, Rila langsung meledak. “Rif! Kamu kenapa diem aja tadi?”

“Kalau aku ngomong keras, hasilnya sama aja. Malah bisa disangka nyari ribut.”

Rila mendengus. “Jadi kita ngalah?”

“Enggak. Kita cari jalan lain.”

🍃🍃🍃

Malamnya, di kamar kos yang sempit, Rifqi membuka laptopnya. Ia menatap folder penelitian lama yang kini tak berguna. Semua data yang dikumpulkan selama berbulan-bulan, suhu air, pH tanah, pertumbuhan mangrove, kini cuma angka kosong. Tapi ia mengetik sesuatu di dokumen baru, “Judul Sementara: Dampak Pembangunan Infrastruktur terhadap Ekosistem Sungai Sukaku. Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan kalimat kedua, “Penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menentang, tetapi untuk mencari titik tengah antara pembangunan dan keberlanjutan lingkungan”.Rifqi menatap layar lama. Ia tahu, Rila mungkin akan menganggapnya terlalu lembek. Tapi di pikirannya, cara satu-satunya untuk menjaga alam adalah dengan membuat orang mau mendengarkan. Di luar jendela, suara jangkrik bersahutan. Udara lembap membawa aroma tanah dan sisa air sungai yang entah kenapa terasa lebih jauh malam itu.

🍃🍃🍃

Keesokan harinya, mereka kembali ke lokasi. Sungai tampak lebih keruh. Sebuah alat berat parkir di tengah lahan bekas mangrove, sementara beberapa pekerja duduk di bawah pohon, merokok.

Rila mengambil foto-foto menggunakan ponselnya. “Kita perlu dokumentasi sebanyak mungkin. Biar nanti bisa jadi bukti kalau ada dampak lingkungan.”

Rifqi mengangguk. “Iya. Tapi jangan upload dulu. Kita kumpulin dulu datanya.”

Rila mengerling. “Kamu bener-bener takut masalah, ya.”

“Aku nggak takut, cuma hati-hati.”

Mereka berdua diam sebentar. Di seberang sungai, suara tawa anak-anak kampung terdengar. Mereka bermain di tepi air yang kini berubah jadi lumpur tebal.

Rila menatap lama ke arah mereka. “Kalau mereka tahu air ini nggak sehat lagi, kira-kira masih mau main di situ nggak, Rif?”

Rifqi terdiam. “Entahlah, Ril. Tapi mungkin mereka nggak punya pilihan lain.”

Ia bergumam pelan, nyaris tak terdengar, “Alam nggak bisa protes, ya”

Rila menoleh. “Apa?”

“Kalau dia bisa marah, mungkin kita semua udah kena banjir hari ini.”

Rila diam lama, lalu berkata lirih, “Untung dia nggak marah, Rif.”

🍃🍃🍃

Sudah dua minggu sejak hari itu. Sungai Sukaku kini lebih tenang, tapi warnanya masih keruh seperti kopi basi. Di kampus, Rifqi duduk di depan laptop di ruang diskusi kecil fakultas. Di depannya ada tumpukan data, peta lokasi, dan catatan lapangan. Tapi matanya kosong.

“Masih kamu perhatiin juga?” tanya Rila yang baru datang, membawa dua gelas kopi.

Rifqi hanya mengangguk. “Aku masih coba lihat korelasi antara kadar oksigen dan waktu pengerjaan proyek. Air makin dangkal, oksigennya turun.”

Rila duduk di seberangnya. “Aku makin pengen marah.”

Rifqi menatapnya sebentar. “Marah tanpa arah cuma bikin capek.”

“Ya tapi ini nggak adil!” suara Rila meninggi. “Kita jaga tempat itu berbulan-bulan. Kita nanam, nyiram, ukur tiap minggu. Terus datang alat berat, hancur semua dalam dua hari. Gimana nggak marah?”

Rifqi menghela napas panjang. “Aku juga kecewa. Tapi kalau kita mau bantu sungainya pulih, harus lewat cara yang bisa diterima. Aku pikir kita bikin penelitian baru aja, Ril. Bukan protes, tapi riset rehabilitasi.”

Rila menatapnya tajam. “Kamu yakin orang-orang mau denger riset kita?”

“Nggak tahu. Kita coba saja dulu.”

Rila terdiam. Rifqi menunduk, menulis sesuatu di laptop. Di layar, tampak kalimat pembuka proposalnya, “Penelitian ini bertujuan memahami dampak pembangunan terhadap ekosistem sungai serta mencari strategi pemulihan yang melibatkan masyarakat dan pelaksana proyek”.

Rila membaca kalimat itu, lalu berkata pelan, “Kamu masih percaya bisa kerjasama sama mereka?”

Rifqi menatap lurus. “Aku nggak percaya sama orangnya. Aku percaya sama niatnya, kalau mereka sadar, mungkin bisa berubah.”

🍃🍃🍃

Seminggu kemudian mereka menemui Pak Fathur, dosen pembimbing skripsi yang dikenal tenang dan teliti. Pak Fathur membaca proposal mereka sambil mengetuk-ngetukkan pulpen ke meja.

“Konsepnya bagus,” katanya akhirnya. “Kalian bukan cuma mengeluh, tapi memberi solusi. Tapi saya ingatkan, kalian akan selalu turun ke lapangan secara langsung. Siap?”

Rila mengangguk pelan. Rifqi lebih tegas. “Kami siap, Pak.”

Pak Fathur tersenyum tipis. “Baik. Saya bantu buatkan surat rekomendasi. Tapi hati-hati dalam komunikasi. Jangan pakai nada menuduh. Tunjukkan niat kalian baik.”

“Terima kasih, Pak,” kata Rifqi.

Rila menambahkan lirih, “Kalau baik nggak didengar, gimana, Pak?”

Pak Fathur menatapnya lembut. “Kalau semua orang berhenti bicara dengan baik, nanti siapa yang mau didengar?”

🍃🍃🍃

Beberapa hari kemudian mereka datang ke kantor Dinas Lingkungan Hidup. Ruangannya besar dan penuh kipas angin tua. Seorang pegawai muda menyambut mereka dengan wajah ramah tapi sibuk.

“Jadi kalian mahasiswa yang mau teliti Sungai Sukaku, ya? Wah, menarik tuh,” katanya sambil membaca surat rekomendasi dari kampus.

“Iya, Bu,” jawab Rifqi. “Kami ingin mengkaji perubahan kualitas air setelah pembangunan jembatan.”

Pegawai itu tersenyum. “Bagus, tapi kalau bisa jangan menyalahkan pihak mana pun, ya. Sekarang ini lagi sensitif. Banyak orang suka salah paham.”

“Kami ngerti, Bu,” kata Rifqi cepat. “Kami cuma mau cari solusi bareng.”

“Kalau gitu saya bantu kasih data awal. Tapi hasil risetnya nanti tolong kirim juga ke kami, ya?”

“Tentu, Bu,” jawab Rifqi mantap.

Saat mereka keluar dari kantor itu, Rila berkata, “Ternyata nggak semuanya tutup telinga, ya.”

Rifqi mengangguk. “Makanya aku bilang, yang penting gimana cara kita ngomong.”

🍃🍃🍃

Beberapa hari berikutnya mereka mulai turun ke lapangan lagi. Untuk mendata semuanya. Mereka membawa alat ukur kecil, termometer air, dan buku catatan. Pekerja proyek sudah mulai terbiasa melihat mereka datang.

Salah satu pekerja bahkan menyapa, “Eh, Mas-Mbak, masih aja rajin ke sini.”

Rifqi tersenyum. “Iya, Pak. Kami lagi ngukur kadar airnya.”

“Kenapa airnya harus diukur segala?”

“Biar tahu sehat atau enggaknya, Pak. Kalau airnya terlalu keruh, ikan susah hidup.”

Pekerja itu mengangguk pelan. “Oh, pantesan udah jarang liat ikan kecil sekarang.”

Rila mencatat kalimat itu cepat-cepat. “Ini penting banget, Rif. Saksi lapangan langsung.”

Rifqi tersenyum. “Lihat, Ril. Mereka bisa mulai sadar kalau kita bicaranya dengan cara yang baik dan bersahabat.”

🍃🍃🍃

Dua minggu kemudian, mereka mempresentasikan hasil sementara penelitian ke kampus. Beberapa dosen dan mahasiswa hadir. Di layar, Rifqi menampilkan grafik kadar oksigen dan tingkat kekeruhan air.

“Berdasarkan pengamatan, ekosistem sungai memang terganggu, tapi bisa dipulihkan,” katanya. “Kami menyarankan rehabilitasi vegetasi di sekitar jembatan.”

Salah satu dosen bertanya, “Apa kalian sudah bicara dengan pihak proyek?”

“Sudah, Pak,” jawab Rifqi. “Dan mereka bersedia bantu penyediaan bibit pohon.”

Rila menambahkan, “Kami juga melibatkan warga sekitar. Jadi nanti sungai bisa dijaga bareng, bukan cuma jadi tanggung jawab pemerintah.”

Presentasi itu mendapat tepuk tangan ringan. Tapi bagi Rifqi dan Rila, itu bukan sebuah kemenangan, melainkan baru awal untuk sesuatu yang lebih besar.

Malamnya, di kamar kos, Rifqi menulis catatan refleksi pribadi di buku catatannya, Kadang perubahan nggak datang dari suara paling keras, tapi dari tindakan paling sabar. Alam bukan musuh manusia, dia cuma cermin dari sikap kita sendiri.” Ia menutup buku itu, menatap keluar jendela. Sungai Sukaku mungkin belum pulih, tapi setidaknya kini tak lagi sendiri.

🍃🍃🍃

Ide mereka mulai disambut baik. Pagi itu Rifqi, Rila, dan seluruh masyarakat berkumpul untuk memulai Reboisasi.[1]

“Mas, ini ditanam di sini aja?” tanya salah satu anak, menunjuk tanah lembap di tepi sungai.

Rifqi jongkok dan tersenyum. “Iya, di sini bagus. Akar pohonnya bisa bantu tahan tanah biar nggak longsor.”

Anak itu mengangguk, menanam bibitnya pelan-pelan. Rila memotret sambil tertawa kecil. “Lucu ya, Rif. Dulu kita di sini cuma berdua, sekarang rame banget.”

Rifqi menatap sekeliling. Warga, mahasiswa, bahkan pekerja proyek ikut membantu. Ada yang menggali, ada yang menyiram. Beberapa petugas dari dinas juga datang, memasang papan bertuliskan, “Zona Rehabilitasi Sungai Sukaku – Kolaborasi Bersama”.

“Lihat tuh, Rila,” kata Rifqi. “Nama kita nggak dicantumkan, tapi hasil kerja kita ada di situ.”

Rila tersenyum. “Nggak apa-apa. Aku malah senang nggak ada nama siapa-siapa. Artinya ini kerja bareng.”

🍃🍃🍃

Menjelang siang, mereka istirahat di bawah pohon besar. 

Salah satu pekerja yang dulu sering mereka temui mendekat. “Mas, Mbak, saya mau bilang makasih. Dulu saya pikir kalian cuma nyalahin proyek, tapi ternyata niat kalian beneran buat bantu sungai dan masyarakat.”

Rifqi tersenyum. “Kami juga belajar, Pak. Dulu kami pikir proyek itu musuh. Tapi ternyata kalau kita saling denger, bisa jadi teman.”

Pekerja itu tertawa. “Bener tuh. Kadang kita sama-sama nggak ngerti maksud masing-masing.”

Rila menimpali, “Iya, Pak. Alam ini nggak butuh orang yang paling benar. Dia cuma butuh kita berhenti saling cuek.” Semua tertawa ringan.

🍃🍃🍃

Beberapa hari kemudian, mereka mempresentasikan laporan akhir ke kampus dan Dinas Lingkungan Hidup. Di layar terpampang foto-foto kegiatan warga, data perbandingan kadar oksigen sebelum dan sesudah rehabilitasi, dan hasil analisis sederhana.

“Dalam dua bulan, kadar oksigen meningkat 15 persen,” jelas Rifqi. “Itu artinya sungai mulai bisa bernapas lagi.”

Rila menambahkan, “Yang lebih penting dari angka adalah keterlibatan masyarakat. Sungai ini jadi tempat belajar bersama.”

Salah satu pejabat dinas menatap layar dan berkata, “Luar biasa. Saya harap kegiatan seperti ini bisa diterapkan di tempat lain.”

Rifqi hanya mengangguk pelan. Ia tahu, perubahan besar tidak datang secepat laporan presentasi. Tapi setidaknya mereka sudah membuka jalan.

🍃🍃🍃



[1] Penanaman kembali hutan yang telah ditebang (tandus, gundul); penghutanan kembali.

Komentar